SELAMAT BERKONGRES RIA, TELURKAN GAGASAN, MATANGKAN PERLAWANAN, DAN MENANGKAN PERJUANGAN

Oleh : Jason

6 – 8 Februari 2016 Federasi Perjuangan Buruh Indonesia ( FPBI ) akan melakukan Kongres ke IV. Menjelang usia yang ke 10 tahun, usia yang masih sangat muda ini telah banyak sekali mewarnai dinamika gerakan buruh di Indonesia. Tidak seperti Serikat Buruh lain yang lahir akibat perpecahan / split organisasi sebelumnya, FPBI lahir dan berkembang dimulai dari titik nol dengan segala kesulitan, hambatan, keterbatasan, dan juga pengalaman yang masih sangat minim. Satu hal yang hingga saat ini menjadi pembeda dan tradisi yang terus dijaga ialah keyakinan dan kepercayaan terhadap kemandirian ekonomi maupun politik.

Oleh karena itu izinkan lah penulis memberikan sedikit tulisan pengantar menyongsong kongres tersebut. Dimana saat ini penulis juga merupakan bagian dari FPBI dan masih terus sama – sama belajar Protest--4-dan berjuang.

Dalam setiap fase perkembangan masyarakat selain masyarakat komunal primitive selalu ada dua klas pokok yang saling bertentangan. Tuan Budak VS Budak, Tuan Tanah VS Buruh Tani, dan saat ini Klas Pemodal VS Klas buruh.

Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lampau.

Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai sifat yang istimewa ini: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain – borjuasi dan proletariat” Karl Marx

Dalam masyarakat kapitalis inilah lahir klas buruh. Klas yang terikat dalam corak dan relasi produksi baru. Klas yang demi mempertahankan hidupnya harus dengan sukarela dan terpaksa menjual tenaga kerjanya dan kemudian diberikan upah sebagai harga tenaga kerja yang sudah dikeluarkannya. Pada akhirnya industri modern telah memusatkan klas buruh ke dalam pabrik – pabrik, pelabuhan, kantor, sekolah dll.

Mengapa Kaum Buruh Harus Berserikat

Kondisi kerja yang sama, penghisapan, pencurian nilai lebih yang dirasakan klas buruh telah melahirkan rasa persamaan nasib. Eksploitasi yang dilakukan klas pemodal berlangsung secara massal dan bersamaan. Misalkan dalam 1 pabrik kebijakan upah murah dan jam kerja yang panjang berlaku untuk mayoritas buruh yang bekerja dalam pabrik tersebut. Hal tersebut melahirkan persaudaraan dalam ketertindasan, rasa solidaritas yang akan menggiring persamaan nasib menjadi perlawanan bersama.

Dalam cengkraman kuku kapitalis yang kuat, buruh tidak dapat melakukan perlawanan secara individu. Lemahnya perlawanan individu tersebut dapat dengan mudah melemparkan buruh ke luar pabrik. Dalam mata rantai produksi di dalam suatu pabrik, 1 mata rantai saling berhubungan dengan mata rantai yang lainnya. Walau pun dalam satu produksi klas buruh terpisahkan dalam berbagai bagian dan cara kerja namun sesungguhnya klas buruh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Satu saja bagian produksi terhenti prosesnya maka akan mengganggu bagian lainnya bahkan keseluruhan proses produksi. Untuk itu dibutuhkan satu kerjasama / kolektif perlawanan.

Dalam peradaban modern dikenal satu istilah organisasi atau dalam klas buruh disebut Serikat Buruh. Semaoen dalam Penuntun Kaum Buruh menulis Ada pula yang berpendapat bahwa kaum buruh hidupnya sangat sulit, sebab hasil perdagangannya sebagian diambil menjadi keuntungan kaum majikan atau keuntungan bagi orang yang memberi pekerjaan padanya. Oleh sebab itu kaum buruh kemudian bersama-sama mendirikan per­kumpulan dalam pekerjaannya, bersama-sama dengan semua kaum buruh agar mereka semakin kuat dan meminta keadilan atas hasil kerjanya. Jangan sampai kaum majikan saja yang semakin kaya, sedangkan kaum buruhnya hidup miskin. Perkumpulan-­perkumpulan inilah yang dinamakan Vakbond atau Vak Vereniging atau Serikat Buruh”. Jadi serikat buruh dibentuk dan didirikan oleh buruh tidak lain untuk menuntut kesejahteraan atas hasil kerjanya kepada pengusaha / majikan.

Serikat buruh dalam prakteknya pastilah selalu berhadap – hadapan dengan pengusaha. Pengusaha dapat terus berlangsung hidup dan memperoleh kekayaan merupakan hasil penghisapan tenaga kerja buruh, karena proses kerja buruh lah yang bisa merubah dan melipat gandakan modal pengusaha menjadi suatu bentuk komoditi. Agar keuntungan pengusaha terus bertambah besar maka upah buruh selalu ditekan semurah – murahnya sehingga harga komoditi yang dijual dapat bersaing dengan sesama pengusaha lainnya. Sementara klas buruh melalui serikat buruh melakukan perjuangan menaikkan taraf hidupnya menuntut kesejahteraan yang layak dan lebih. Singkatnya klas buruh menuntut kenaikan upah yang artinya klas buruh menuntut agar pengusaha mau dan sukarela mengurangi jumlah keuntungan yang selama ini didapat dan didistribusikan kepada buruhnya. Tentu saja hal seperti demikian tidak akan terjadi dengan mudah. Kontradiksi pokok ini terus terjadi sepanjang kapitalisme menguasai dunia.

Klas pemodal merupakan satu kekuatan yang kuat. Mereka mempunyai segala alat dan cara untuk melumpuhkan kekuatan perjuangan klas buruh. Mereka menguasai kekuasaan politik yang dapat mengerahkan semua instrument Negara ( termasuk di dalamnya aparatus kekerasan Negara : TNI dan Polisi ) untuk meredam perjuangan buruh. Sementara kekuatan serikat buruh terletak pada posisi vitalnya dalam proses produksi. Mogok bekerja menjadi salah satu kekuatan terampuh yang dimiliki oleh serikat buruh.

Namun serikat buruh itu sendiri bukan lah dengan mudah dapat dijadikan senjata bagi kaum buruh. Serikat buruh dapat menjadi senjatanya klas buruh setidaknya harus memiliki beberapa syarat :

  1. Kekompakan, kesolidan dan persatuan diantara klas buruh. Ini menjadi kunci awal bagi perjuangan klas buruh. Tanpa kekompakan, kesolidan, dan persatuan klas buruh mustahil serikat buruh dapat menjadi satu kekuatan yang tangguh
  2. Kepemimpinan dan program. Dalam satu organisasi manapun termasuk serikat buruh harus mempunyai kepemimpinan yang kuat, jujur, disiplin, komitmen serta mampu mengkonsolidasikan klas buruh. Kepemimpinan yang tidak kuat dan lacur akan menggiring perjuangan klas buruh menuju jurang penindasan yang lebih dalam. Sementara selain kepemimpinan juga serikat buruh harus mempunyai program perjuangan. Program perjuangan yang dihasilkan dari gagasan – gagasan dan disepakati bersama inilah yang akan mengawal kepemimpinan tadi. Tanpa program perjuangan yang jelas dan konkret kepemimpinan yang kuat tidak akan tau kemana arah perjuangan klas buruh kedepannya.
  3. Kemandirian ekonomi. Perjuangan klas buruh jelas menuntut perbaikan nasib dan kesejahteraan. Artinya baik klas buruh maupun serikat buruh itu sendiri berdiri dalam keadaan tidak mapan. Sulit dan sukarnya perjuangan klas buruh mengharuskan serikat buruh untuk mampu mengorganisir sumber keuangan dalam rangka perjuangan panjang tersebut. Pentingnya kesadaran ber-iuran dan juga membangun satu kemandirian ekonomi lain akan menyokong dan menguatkan perjuangan itu sendiri. Dan yang terpenting dengan kemandirian ekonomi tersebut membebaskan perjuangan klas buruh dari intervensi dan juga kooptasi dari pihak yang ingin membelokkan perjuangan buruh
  4. Ideologi ialah tujuan. Klas buruh harus mempunyai tujuan tatanan masyarakat kedepan ialah peradaban yang tanpa ada penindasan. Selama ratusan tahun kapitalisme berkuasa, selama itu juga klas buruh mengalami ketertindasan. Tanpa adanya ideologi klas buruh akan mengalami kebingungan, kebuntuan, bahkan keputus asaan dalam melakukan perjuangan yang sering kali mengalami kegagalan – kegagalan dalam perkembangannya. Hanya ideologi yang mampu menjaga klas buruh tetap bertahan dengan semangat baja dalam melawan system yang tidak manusiawi ini. Ideologi dapat muncul lewat praktek belajar dan berjuang bersama.

Tanpa syarat – syarat diatas mustahil serikat buruh dapat menjadi alat pertahanan dan perlawanan kaum buruh.

Perjuangan Kaum Buruh (batasan dan lompatan)

Serikat buruh merupakan perkumpulan klas buruh. Serikat buruh juga terikat pada mekanisme formal Negara ( baca : peraturan perundang – undangan ). Perjuangan serikat buruh selalu menuntut kesejahteraan normative misalkan kenaikan upah, kepastian kerja, kesehatan dan pendidikan keluarga dll. Untuk merebut kembali kesejahteraan yang secuil saja klas buruh banyak menghadapi hambatan baik secara internal maupun eksternal. Hambatan internal seperti kesadaran klas buruh yang masih minim, kesolidan dan solidaritas yang lemah, ekonomi mandiri yang tidak berjalan. Sementara hambatan ekstenal ialah kekuatan pengusaha yang kuat, ancaman represifitas dari aparat Negara maupun milisi, hukum yang tidak berpihak pada klas buruh dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan kondisi demikian perjuangan kaum buruh sesungguhnya memiliki batasan dalam pemenangan. Setiap waktu serikat buruh akan berhadapan dengan pengusaha dalam berbagai momentum, baik itu ketika perjuangan upah, advokasi PHK, tuntutan hak normative, maupun penolakan kebijakan Negara, dan itu selalu terjadi hampir menyita seluruh waktu serikat buruh. Perjuangan serikat buruh tidak mampu menembus akar masalah yang dihadapi dalam system kapitalisme.

Namun bukan berarti kemudian kita meremehkan fungsi serikat buruh. Justru karena berbagai hambatan dan batasan tersebut kita harus mampu merevolusionerkan serikat buruh. Serikat buruh harus meradikalisasi dirinya agar mampu bertarung merebut kesejahteraan dari klas pemodal. Serikat buruh harus berupaya semaksimal mungkin memenangkan pertarungan – pertarungan normative. Karena dari pertarungan memenangkan batas normative inilah menjadi sumbu awal bagi ledakan gerakan klas buruh kedepan. Serikat buruh harus mampu memenangkan pertarungan awal agar dapat menjaga semangat dan militansi klas buruh. Serikat buruh juga mejadi sekolah yang efektif bagi kemajuan kesadaran klas buruh. Serikat buruh juga harus mampu dikelola secara professional sebagai pelajaran awal mengelola Negara kelak. Karena pentingnya fungsi dan peran inilah maka perhatian terhadap serikat buruh tidak boleh kita alihkan.

Jika serikat buruh memiliki batasan yaitu hanya sekedar berjuang memperbaiki nasib maka harus ditingkatkan menjadi perjuangan perubahan nasib. Ini merupakan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. Menurut Ibnu Parna dalam Menara Buruh “Perjuangan untuk perbaikan nasib terbatas kepada nasib buruh dalam lingkaran masyarakat kapitalis. Sebaik apapun nasib buruh dalam masyarakat kapitalis, kaum buruh tidak akan pernah berkuasa atas hasil pekerjaannya dan kaum buruh tidak pula berkuasa atas nilai lebih yang diperas dari tenaganya. Sebaik apapun nasib buruh dalam masyarakat kapitalis, kaum buruh tidak akan hidup tenteram, karena tetap terancam akan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang tidak seimbang dengan kenaikan upah. Dan tetap terancam bahaya pengangguran, bahaya perang dan lain-lain. Sebaliknya, perubahan nasib tidak didapat dalam masyarakat kapitalis. Perubahan nasib hanya dapat diperoleh di atas liang kubur masyarakat kapitalis. Untuk dapat merobohkan masyarakat kapitalis sangat dibutuhkan kesadaran massa buruh. Itulah sebabnya setiap ketimpangan dalam masyarakat kapitalis, yang selalu menimpa nasib buruh, perlu digunakan sebagai latihan menambah kesadaran buruh, serta sebagai saluran untuk memperkaya pengalaman buruh. Demikianlah perjuangan perbaikan nasib tidak boleh dipandang sebagai soal yang terpisah, melainkan harus dipahami dan dilakukan sebagai bagian dari perjuangan perubahan nasib”. Untuk melakukan perjuangan perubahan nasib inilah klas buruh memerlukan alat baru dalam perjuangannya yaitu alat politik klas buruh.

Partai Buruh Dan Serikat Buruh

Partai buruh dan serikat buruh merupakan dua alat perjuangan klas buruh. Serikat buruh adalah alat perjuangan sederhana klas buruh. Serikat buruh menjadi pusat konsolidasi massa buruh dalam melakukan perjuangan normative. Sementara partai buruh alat perjuangan klas buruh dengan tingkatan yang lebih maju. Partai buruh tidak hanya mengkonsolidasikan klas buruh namun juga menjadi pusat konsolidasi seluruh rakyat tertindas. Partai buruh melakukan perjuangan perubahan nasib rakyat.

Jika serikat buruh menuntut perbaikan kesejahteraan, maka partai buruh memperjuangkan perubahan kondisi massa rakyat dengan jalan merebut kekuasaan politik. Serikat Buruh adalah sebuah cabang dalam susunan massa aksi. Partai kaum buruh adalah pimpinan dari berbagai cabang susunan massa aksi. Singkatnya, Partai kaum buruh adalah pimpinan dalam susunan massa aksi yang teratur. Partai buruh haruslah lebih disiplin dan militan dalam perjuangan kelas. Partai buruh juga sudah harus mempunyai cita – cita dan bayangan tatanan massa rakyat ke depan.

Karena saling berkaitan inilah maka harus ada pembagian kerja yang disiplin dan sama kerja kerasnya. Tanpa serikat buruh yang kuat dan militan, dan juga pengalaman – pengalaman yang memerlukan daya juang tinggi akan sulit membangun partai buruh yang kuat pula. Karena dari serikat buruh yang kuat ditambah pengalaman daya juang yang tinggi akan menghasilkan pemimpin – pemimpin massa buruh yang sudah teruji untuk membangun partai buruh. Tanpa pondasi atau tuas yang kuat dan solid sudah dapat dipastikan partai buruh tidak akan sanggup berjuang dan berhadap – hadapan dengan kekuasaan klas pemodal.

Penutup

Akhirnya sebagai penutup kami mengucapkan Selamat Berkongres Ria buat kawan – kawan FPBI. Jadikanlah kongres ini sebagai momentum lahirnya gagasan – gagasan terbaik dan juga melahirkan kepemimpinan perlawanan klas buruh ke depannya. Dan yang terakhir semoga semua harapan dan cita – cita segera terwujud demi kejayaan klas buruh dan rakyat Indonesia. Jaya lah Sosialisme!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s